RETORIKABANUA.ID, Balangan – Dalam upaya memperkuat pencegahan stunting dari tingkat desa, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3A P2KB PMD) Kabupaten Balangan menggelar kegiatan orientasi Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yang melibatkan para kader desa se-Kabupaten Balangan.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh kepada kader desa mengenai pentingnya gizi seimbang dan pemanfaatan pangan lokal dalam menurunkan angka stunting di wilayah masing-masing.
“Peserta kegiatan adalah kader desa dari seluruh kecamatan, dengan masing-masing desa mengirimkan dua orang. Dua hari diisi materi edukatif, dan satu hari praktik memasak,” jelas Munisih, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balangan, Selasa (20/5).
Pada hari pertama dan kedua, peserta dibekali materi seputar gizi seimbang yang mudah diterapkan di lingkungan masyarakat, terutama dengan memanfaatkan sumber pangan lokal yang terjangkau. Sementara di hari ketiga, para kader dari tiap kecamatan mengikuti praktik memasak menu bergizi yang sehat dan menarik bagi anak-anak.
Munisih menambahkan bahwa orientasi ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Program MBG saat ini sedang dalam tahap persiapan di Kabupaten Balangan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas kader desa sebagai ujung tombak edukasi gizi di masyarakat,” tambahnya.
Narasumber dari Universitas Sapta Mandiri, Muayanah Hardiah, yang mengisi materi dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya edukasi gizi yang sederhana, aplikatif, dan berbasis potensi lokal.
“Hari ini saya membawakan materi tentang gizi seimbang dengan pendekatan pangan lokal sebagai solusi mencegah stunting. Kami ingin para kader bisa langsung menerapkan ilmu ini di kehidupan sehari-hari maupun di kegiatan posyandu,” tuturnya.
Muayanah berharap, setelah pelatihan ini, para kader desa dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya, dengan menyebarkan pengetahuan kepada keluarga dan anak-anak yang mengalami kekurangan gizi.
“Dengan intervensi langsung di masyarakat, kita harapkan status gizi anak-anak yang berisiko stunting bisa segera membaik,” tambahnya. (ms)

Leave a comment