Minggu, 21 Juli 2024
BerandaKALSELHULU SUNGAI UTARASejuta Akseptor di HSU Melebihi Target

Sejuta Akseptor di HSU Melebihi Target

AMUNTAI – Melebihi target yang ditetapkan BKKBN, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) memperoleh pencapaian pelayanan KB dan sejuta akseptor 2021.

Hal itu disampaikan Kepala DPPKB HSU Hj Anisah Rasyidah Wahid saat menyambut kedatangan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalsel pada kegiatan peninjauan pelayanan KB dan Posyandu Holistik Integratif (HI) peringatan Harganas ke-28 tahun 2021, sekaligus peringatan HUT Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-70, di Mess Negara Dipa, Kamis (24/6).

“Total pencapaian pelayanan KB dan sejuta akseptor secara keseluruhan baik MKJP maupun non MKJP sebesar 138 %, melebihi target yang ditetapkan oleh Perwakilan BKKBN Kalsel,” kata Hj Anisah.

Dalam rangka meningkatkan kualitas keluarga, DPPKB HSU selama ini telah melaksanakan beberapa kegiatan dalam rangkaian Harganas 2021. Seperti pelayanan KB gratis dan pelayanan Posyandu HI. Agar meningkatkan cakupan keluarga berencana baru dalam peserta KB, menyinergikan gerak dan langkah keluarga Indonesia dalam pencegahan stunting.

“Tujuan khususnya mengoptimalkan peran pemangku kepentingan dan mitra kerja terkait dalam pelayanan KB serentak. Kemudian meningkatkan kepedulian keluarga Indonesia dalam pencegahan stunting,” ucapnya.

Pelayanan KB gratis bekerja sama dengan PKK, TNI, Dinkes, IBI, dan Baznas. Dimulai awal Juni dengan fokus stunting, setiap kampung KB dapat bantuan 20 Sembako bagi kaum Lansia dengan ekonomi lemah.

Kepala Perwakilan BKKBN Kalsel H Ramlan mengatakan, sebagaimana arahan Presiden RI, Januari 2021 lalu, menargetkan tahun 2024 kasus stunting di Indonesia dapat ditekan hingga berada di angka 14%. Angka kematian ibu bisa ditekan hingga di bawah 183 kasus per 100.000 ibu melahirkan.

“Stunting harus ditekan dari hulu ke hilir. Mulai program edukasi hingga intervensi gizi untuk mencegah anak gagal tumbuh. Program edukasi penting agar anak tidak salah gizi. Selain itu, juga harus diperhatikan pengamatan terhadap kondisi gizi anak,” jelasnya. (mid)

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI