BANJARMASIN – Dinas Kesehatan Kalsel telah mengumumkan penambahan jumlah kasus Covid-19 yang sangat signifikan dalam sehari. Jumlah pasien positif kebanyakan ditemukan dari hasil tracing kontak erat dari pasien yang sebelumnya terkonfirmasi positif.
Akademisi Fakultas Kedokteran ULM, sekaligus Ketua Dewan Pakar DPD- FIDN Kalsel Prof Husaini menjelaskan, bagaimana seharusnya dalam merespons terjadinya lonjakkan Covid-19, termasuk partisipasi sinergitas publik dan pemerintah daerah.
“Cara untuk menilai dan merespons tinggi dan rendahnya kasus Covid-19 di suatu daerah/wilayah yang sangat krusial dan fundamental, yaitu di bagian hulu ditandai dengan ukuran-ukuran ilmiah,” kata Prof Husaini.
Ukuran-ukuran yang dimaksud adalah nilai positivity rate (PR) atau nilai infeksi Covid-19 di tengah masyarakat setiap hari di bawah 5% selama minimal 10 minggu berturut- turut. Artinya jika nilai PR semakin tinggi di atas 5%, maka semakin banyak pula potensi kasus Covid-19 di tengah masyarakat.
Ukuran kedua adalah angka pelacakan kasus (tracing ) dan isolasi (RLI) di sesuaikan dengan angka/ukuran Positivity Rate (PR). Jika PR=5%, maka tracing/lacak kasusnya minimal 1:30 (standar WHO). Kemudian dilanjutkan dengan secepatnya untuk di-testing/uji tes dengan metode lebih diutamakan menggunakan PCR Test atau TCM Test.
Nilai rasio lacak dan isolasi (RLI ) menggambarkan atau menjelaskan hubungan kemampuan wilayah dalam respons Covid-19, yaitu jika ada satu yang tetkonfirmasi positif, maka minimal 30 orang yang dilacak dan di- testing. Apabila ditemukan konfirmasi kasus, segera lalukan treat/tindakan, baik isolasi terpusat atau jika dalam kondisi sakit sedang dan berat di rawat di rumah sakit rujukan Covid-19 di wilayah tersebut.
Yang menjadi ukuran ketiga, lanjut dia, adalah nilai Re atau Rt wajib di bawah 1 (satu) selama minimal 10 minggu berturut-turut. Sedangkan ukuran terakhir adalah angka disiplin kepatuhan masyarakat dalam penggunaan prokes Covid-19 minimal skornya 85 minimal 10 minggu berturut-turut.
“Jika bagian hulu tersebut kurang optimal dilakukan/dilaksanakan oleh suatu wilayah dalam merespons lonjakkan kasus Covid-19, serta tidak dibendung, maka berapapun kapasitas rumah sakit dan faskes di sediakan, termasuk sumber daya manusia beserta operasionalnya, tidak akan mampu,” tegasnya.
Menyoroti masalah itu, Wakil Ketua DPRD Kalsel Muhammad Syaripuddin kembali menghimbau agar bersama-sama untuk membendung bagian hulu seperti dijelaskan Prof Husaini.
“Saya selalu bilang, ayo pemerintah perkuat 3T, 5M, vaksin dan kom/koor antar stakeholder yang efektif,” kata Bang Dhin, sapaan akrab politisi muda Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kalsel ini.
Ia mengemukakan, kemampuan mendeteksi orang sakit harus ditingkatkan, kemudian dites dan obati. Protap 5M juga harus ditingkatkan, pengawasan ekstra oleh pemerintah dan dimohon partisipasi masyarakat.
Begitu pula dengan vaksin, ketersediaan stok dan distribusi harus diperhatikan pemerintah, serta tidak lupa mengenai pelaksanaan vaksinasi yang masih bermasalah terkait kerumunan.
“Kasihan para nakes di faskes yang merupakan tokoh di bagian hilir. Mereka terlalu kita jadikan titik tumpu. Sudah seharusnya bagian hulu membantu meringankan beban kerja mereka,” pungkasnya. (syl)

Leave a comment