BANJARMASIN – Terinspirasi dan kecintaan menikmat seduhan kopi, membuat Dedi Hidayat memberanikan diri berbisnis kedai kopi sendiri dengan bermodalkan pengetahuan tentang cara menyeduhkan dan cita rasa penyajiankhas. Tanggal 12 Februari 2011 lalu, dengan dukungan Mas Nanang selaku founder, menjadi momen bersejarah lahirnya Kopi Selir di Sungai Ulin Banjarbaru.
Sekarang kedai itu sudah beranak pinak dan hadir di beberapa tempat dan kota di Kalimantan.
Master Dedi, sapaan hangat dari rekan kerjanya, menjelaskan mengapa bernama Kopi Selir. Itu karena romantisme pecinta kopi yang menghabiskan waktu ngopi lebih lama dari pada hal lain di dunia.
“Bagai selir raja, yang menerima segala keluh kesah tanpa balas jasa,” ucapnya.
Untuk bahan membuat kopi, mereka memproduksi biji kopi sendiri. Dari petani, bibit, penanaman, panen, hingga menyeduhnya ke pelanggan, dilakoni sendiri.
“Jenis kopi yang kami produksi adalah Robusta,” ungkapnya.
Dedi menuturkan, pengolahan kopi cukup sulit. Sampai pada tahun 2019 hingga sekarang, biji yang diproduksi mendapatkan kualitas grid ke 2 standar mutu Indonesia/Vietnam untuk Robusta.
“Perlu waktu 5 tahun untuk mencapai itu,” ujarnya.
Konsep yang ditawarkan Kopi Selir juga sangat menarik. Mereka mengutamakan pelayanan, mengedukasi, serta merekomendasikan kepada semua pelanggan dari berbagai golongan untuk membuat atau menikmati seduhan kopi.
Harga yang ditawarkan pun terjangkau, malah terkesan murah, untuk secangkir kopi berkualitas dan bercita rasa tinggi. Berbagai jenis menu disajikan secara manual dan original, dengan kisaran harga Rp 6 sampai Rp 15 ribu.
Kopi Selir ternyata punya filosofis asyik. Nikmati prosesnya, lihat hasilnya. Setiap tangan punya cara sendiri untuk menghasilkan seduhan.
“Disanjung jangan jadi langit. Dihina jangan jadi tanah. Jika dihujat, jadilah berkembang,” kata Master dan Owner Kopi Selir Banjarmasin 1 ini.
Kedai di Jalan A Yani Km 5 No 5 Stadion Lambung Mangkurat ini buka setiap hari dari dari jam 11.00 siang hingga 23.00 malam. (uta)



Leave a comment