RETORIKABANUA.ID, Balangan – Masyarakat adat Dayak Deah di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, kembali menggelar Festival Mesiwah Pare Gumboh (MPG) VIII, Jumat (10/7). Tradisi tahunan ini menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus wujud pelestarian budaya leluhur yang kini berkembang sebagai salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Balangan.
Wakil Bupati Balangan, Akhmad Fauzi, mengapresiasi komitmen masyarakat Desa Liyu yang terus menjaga dan melestarikan adat istiadat warisan leluhur hingga menjadi kebanggaan daerah.
“Saya sangat mengapresiasi seluruh masyarakat Desa Liyu yang terus memelihara adat warisan leluhur dan melaksanakannya secara rutin setiap tahun. Festival ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Liyu, tetapi juga mendukung Balangan sebagai salah satu tujuan wisata budaya,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Balangan akan terus mendukung pengembangan potensi wisata di Desa Liyu dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya lokal agar tetap lestari dan tidak kehilangan jati dirinya.
Ketua Pelaksana Festival Mesiwah Pare Gumboh VIII, Budianto, mengatakan rangkaian kegiatan tahun ini tetap mempertahankan prosesi adat yang menjadi ciri khas festival.
Rangkaian acara diawali dengan arak-arakan menuju balai ritual, dilanjutkan prosesi Nyerah Ngemonta, memasak hasil panen, hingga ritual Mesiwah yang diiringi pembacaan mantra kepada para leluhur. Festival juga dimeriahkan penampilan tujuh sanggar seni dari Kabupaten Balangan serta sejumlah sanggar seni dari Kabupaten Tabalong.
Budianto berharap Festival Mesiwah Pare Gumboh terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar penyelenggaraannya semakin berkembang dan dikenal lebih luas.
Sementara itu, Kepala Desa Liyu, Sukri, mengatakan Mesiwah Pare Gumboh bukan sekadar ritual adat atau ungkapan syukur atas hasil panen. Tradisi ini juga menjadi identitas masyarakat Dayak Deah yang mencerminkan semangat gotong royong, persatuan dan rasa syukur atas hasil bumi.
Menurutnya, festival tersebut kini berkembang menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan masyarakat, para perantau, hingga wisatawan dari berbagai daerah.
“Siapa pun yang datang ke desa ini bukanlah tamu, melainkan saudara yang sedang pulang kampung. Kami berharap setiap orang yang datang membawa pulang cerita tentang hangatnya persaudaraan, lalu suatu saat kembali lagi ke Desa Liyu,” ungkapnya.
Melalui Festival Mesiwah Pare Gumboh VIII, masyarakat berharap tradisi warisan leluhur tetap terjaga sekaligus semakin memperkuat posisi Desa Liyu sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Balangan. (mc)


