RETORIKABANUA.ID, Tanah Bumbu – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tanah Bumbu melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan Jembatan Pulau Kalimantan–Kotabaru. Proyek strategis ini diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarpulau sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Selatan.
Peninjauan lapangan tersebut dipimpin oleh Wakil Ketua I DPRD Tanah Bumbu, Hasanuddin dan dilaksanakan di kawasan Batulicin pada Rabu (7/1).
Jembatan ini dirancang sebagai penghubung utama antara Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru. Keberadaannya dinilai sangat penting untuk memperlancar transportasi, distribusi barang dan logistik, serta mobilitas masyarakat, khususnya antara Pulau Kalimantan dan Pulau Laut.

Kegiatan monitoring ini turut dihadiri perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), anggota DPRD Tanah Bumbu, Lurah Batulicin, Sekretaris Camat Batulicin, pihak pelaksana proyek dari PT PP, konsultan pengawas, serta unsur terkait lainnya.
Dalam keterangannya, Hasanuddin menjelaskan bahwa peninjauan ini dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai rencana, tepat waktu dan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.
Ia juga menyampaikan bahwa proyek ini mendapat dukungan anggaran yang besar. Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu mengalokasikan dana sekitar Rp100 miliar, sementara Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan sekitar Rp500 miliar.
“Kami ingin memastikan proyek strategis ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Tanah Bumbu, Andi Asdar Wijaya, menyebutkan bahwa monitoring kali ini merupakan yang kedua. Peninjauan sebelumnya telah dilakukan pada Januari 2025 sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan pembangunan.
Dari sisi teknis, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Tanah Bumbu, Ramdhan, menyampaikan bahwa pembangunan Jembatan Kotabaru–Batulicin ditargetkan selesai pada tahun 2028 sesuai arahan kementerian terkait.
Project Manager PT PP, Yusuf Luqman, memaparkan perkembangan proyek secara menyeluruh, mulai dari lokasi pembangunan, tahapan pekerjaan, hingga dokumentasi progres lapangan. Ia menjelaskan bahwa tantangan utama pembangunan terletak pada kondisi batuan keras di dasar laut pada area pondasi jembatan.
“Kondisi tersebut memerlukan metode khusus dan waktu pengerjaan yang lebih lama. Meski begitu, kami tetap berupaya agar proyek berjalan sesuai jadwal,” jelasnya.
Hasanuddin berharap jembatan dengan panjang sekitar tiga kilometer ini dapat diselesaikan tepat waktu dan segera dimanfaatkan masyarakat sebagai akses vital penghubung antarpulau. (thr)
