RETORIKABANUA.ID, Banjarmasin – Di tengah krisis pengelolaan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah utama, Pemerintah Kota Banjarmasin menggandeng pelaku ekonomi kreatif, khususnya subsektor hotel, restoran dan kafe (Horeca), dalam upaya kolaboratif pengelolaan limbah.
Langkah ini diwujudkan melalui Pelatihan Pengelolaan Limbah yang digagas oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, Rabu (23/4), dan diikuti puluhan pelaku usaha di sektor terkait.
Wakil Wali Kota Banjarmasin, Ananda, yang membuka kegiatan sekaligus menjadi narasumber utama, menyebut bahwa langkah ini merupakan bagian dari solusi jangka panjang atas kondisi “darurat sampah” yang dihadapi kota saat ini.
“Kami tahu sektor ekonomi kreatif memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan kota, namun juga menghasilkan limbah. Sayangnya, sebagian besar belum memiliki SOP pengelolaan limbah yang jelas,” ungkap Ananda.
Ia menegaskan bahwa pelatihan ini bukan untuk menyalahkan pelaku usaha, melainkan sebagai bentuk pembinaan dan edukasi awal.
“Kami tidak ingin langsung menjatuhkan sanksi. Kesadaran pelaku usaha untuk memahami dampak dan tahu bagaimana bertindak jauh lebih penting sebelum aturan ditegakkan,” imbuhnya.
Salah satu subsektor yang turut disoroti adalah industri kain Sasirangan. Menurut Ananda, penggunaan pewarna sintetis dalam produksi kain tersebut menimbulkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan benar.
“Kalau pewarna alami masih aman, tapi pewarna buatan ini perlu perhatian khusus. Kita belum tahu selama ini limbah cairnya dibuang ke mana,” ujarnya.
Plt Kepala Disbudporapar Banjarmasin, Fitriah, menyebut bahwa pelaku usaha di sektor Horeca menyumbang timbunan sampah yang signifikan, namun masih banyak yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik.
“Masih ada hotel dan restoran yang belum memilah sampah atau belum mengelola limbah organik dan nonorganiknya dengan benar. Pelatihan ini memberi mereka wawasan dan keterampilan praktis untuk memulai dari unit usaha masing-masing,” jelas Fitriah.
Pelatihan ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari (23–24 April 2025), dengan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, yakni Kepala DLH Alive Yoesfah Love dan Kabid Tata Lingkungan DLH Nanik.
Menurut Fitriah, pelaku usaha Horeca memiliki pengaruh besar dalam membentuk budaya konsumsi masyarakat, sehingga diharapkan bisa menjadi pelopor perubahan perilaku lingkungan di masyarakat.
“Kami ingin pelatihan ini menjadi jembatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha. Tak perlu ada yang dikorbankan, karena bisnis dan lingkungan bisa berjalan seiring jika ada pemahaman dan komitmen bersama,” pungkasnya. (ms)



Leave a comment