BANJARBARU – Wali Kota Banjarbaru Aditya Mufti Ariffin didampingi Kepala DP2KBPMP2A Dra Sri Lailana menghadiri pembukaan Orientasi Teknis Tim Pendamping Keluarga dalam rangka Percepatan Penurunan Stunting di Kota Banjarbaru di aula Gawi Sabarataan, Senin (25/4).
Acara ini juga dihadiri Ketua BKKBN Kalsel Ir H Ramlan MA, TP PKK Kota Banjarbaru, camat, serta Ketua TP PKK Kecamatan se Kota Banjarbaru dan para kader KB serta undangan lainnya.
Aditya Mufti Ariffin menyampaikan, orientasi ini sangat penting sebagai media peningkatan wawasan dan kemampuan kader-kader tim pendamping keluarga.
“Tentunya dari kegiatan ini diharapkan menjadi ajang silaturahmi, komunikasi dan sosialisasi antara kader-kader tim pendamping keluarga untuk saling menyempurnakan dan mendukung keberhasilan program-program di daerah masing-masing. Sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas merupakan syarat untuk membawa negara, bangsa, masyarakat dan daerah ke arah kemajuan,” katanya.
Namun, tambah dia, penyiapan sumber daya manusia unggul masih terkendala tantangan yang bernama stunting. Berdasarkan data survei status gizi balita indonesia tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita. Prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.
“Presiden Joko Widodo menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Pemerintah Kota Banjarbaru dalam rangka mewujudkan misi tersebut terus melakukan berbagi upaya, seperti penandatanganan komitmen bersama percepatan penurunan stunting dengan melibatkan lintas sektor terkait,” katanya.
Upaya lainnya adalah pemberdayaan tim pendamping keluarga, yang terdiri dari bidan, kader PKK dan kader keluarga berencana. Tim pendamping keluarga bertugas mengedukasi, sosialisasi dan screening pencegahan stunting pada 3 kelompok sasaran, yaitu calon pengantin, ibu hamil, dan keluarga yang memiliki anak di bawah 2 tahun.
Ketiga kelompok sasaran ini memang yang paling beresiko tinggi mengalami kasus stunting. Deteksi dini terhadap resiko stunting terus kita masifkan. Keberadaan tim pendamping keluarga diharapkan bisa memperluas cakupan penemuan potensi stunting di masyarakat, sehingga semakin awal ditemukan, akan semakin cepat di intervensi. (tf)

Leave a comment