RETORIKABANUA.ID, Banjarbaru – Cabang olahraga (cabor) Savate resmi bergabung sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Selatan (Kalsel). Pengesahan tersebut dilakukan dalam Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Kalsel yang digelar di Hotel Aria Barito, Banjarmasin.
Bergabungnya Savate ke dalam KONI Kalsel menjadi langkah penting untuk memperkuat pembinaan olahraga bela diri tersebut di Banua sekaligus membuka peluang pengembangan atlet menuju berbagai ajang kompetisi.
Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Savate Indonesia (PSI) Kalimantan Selatan, Johan Amin, yang akrab disapa Bang Jo, mengatakan saat ini Savate telah memiliki kepengurusan di sedikitnya enam kabupaten/kota. Beberapa daerah tersebut di antaranya Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan, Hulu Sungai Tengah (HST), Tanah Laut, serta Banjarbaru yang masih menyelesaikan proses administrasi.
“Sudah ada sekitar enam daerah yang memiliki kepengurusan. Banjarbaru sedang melengkapi administrasi dan kami optimistis dalam waktu dekat semuanya selesai,” ujarnya.
Menurut Bang Jo, PSI Kalsel menargetkan seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan segera memiliki kepengurusan agar pembinaan atlet dapat dilakukan secara merata.
“Kami ingin Savate menjadi salah satu cabang olahraga bela diri yang berkembang di seluruh Kalimantan Selatan. Dengan semakin banyak kepengurusan daerah, pembinaan atlet juga akan semakin optimal,” katanya.
Selain memperluas organisasi, PSI Kalsel juga mulai mempersiapkan atlet untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Selatan Tahun 2029 yang akan digelar di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Bang Jo menjelaskan, Savate merupakan olahraga bela diri sekaligus olahraga tarung kontak penuh yang berasal dari Prancis. Sekilas, olahraga ini memiliki kemiripan dengan kickboxing karena sama-sama mengandalkan teknik pukulan dan tendangan.
Namun, Savate memiliki ciri khas tersendiri. Atlet diwajibkan menggunakan sepatu khusus saat bertanding maupun berlatih. Selain itu, olahraga ini juga menekankan aspek keselamatan melalui penggunaan perlengkapan pelindung.
“Pertarungannya menggunakan tangan dan kaki seperti bela diri lainnya, tetapi atlet wajib memakai sepatu khusus. Aspek keselamatan menjadi salah satu perhatian utama dalam Savate,” jelasnya.
Untuk memperkenalkan Savate kepada masyarakat, PSI Kalsel terus melakukan sosialisasi melalui komunitas dan klub-klub bela diri yang telah berkembang di berbagai daerah.
Ke depan, organisasi tersebut juga berencana bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk mengenalkan Savate di lingkungan sekolah sebagai upaya menjaring bibit atlet sejak usia dini.
“Kami berharap sosialisasi di sekolah-sekolah dapat melahirkan atlet-atlet baru yang nantinya dipersiapkan mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat daerah hingga nasional,” tutupnya. (mc)


