OPINI

Menyalakan Kembali Api Bandung

177

Oleh Djarot Saiful Hidayat

Tujuh puluh tahun lalu, Bandung menjadi saksi kebangkitan moral umat manusia. Pada 18–24 April 1955, lima puluh sembilan delegasi dari Asia dan Afrika berkumpul di Gedung Merdeka dengan satu tekad: menolak hidup di bawah bayang-bayang imperium.

Mereka datang bukan dengan kapal perang, melainkan membawa luka kolonial yang sama, serta harapan untuk mengubah nasib dunia.

Di antara mereka berdiri Soekarno—pemimpin yang tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan, tetapi juga tentang harga diri bangsa-bangsa yang berabad-abad dipaksa membungkuk. Dalam pidato pembuka Konferensi Asia-Afrika (KAA), Bung Karno menyerukan:

“Biarlah dunia mendengar bahwa Asia dan Afrika telah bangkit dari tidurnya yang panjang.”

Kalimat itu bukan sekadar retorika, melainkan penanda lahirnya tatanan baru yang kemudian disebut Zaman Bandung—zaman ketika negara-negara Selatan berbicara dengan bahasa kemanusiaannya sendiri.

Bandung bukan sekadar peristiwa diplomatik, melainkan ledakan makna. Dari sanalah lahir Dasasila Bandung—sepuluh prinsip hidup berdampingan secara damai yang menjadi fondasi Gerakan Non-Blok dan inspirasi bagi Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lebih dari itu, Bandung menanamkan keyakinan bahwa kemerdekaan bukan akhir perjuangan, melainkan awal untuk ikut menentukan arah dunia.

Kini, tujuh dekade berlalu, cita-cita itu belum sepenuhnya terwujud. Kolonialisme memang telah berganti wajah, tetapi ketimpangan global tetap berakar. Bung Karno pernah memperingatkan di PBB pada 30 September 1960:

“Kita tidak mempertahankan dunia yang kita kenal, kita membangun dunia yang lebih baik—sebuah dunia tanpa kolonialisme dan imperialisme.”

Pertanyaannya kini: dunia seperti apa yang sedang kita bangun? Dunia siapa yang sedang kita pertahankan?


Spirit Bandung di Dunia yang Retak

Dunia hari ini sedang berguncang. Perang Rusia–Ukraina belum usai, Timur Tengah kembali berdarah, Gaza menjadi simbol luka nurani global. Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok memperlihatkan ketegangan ekonomi yang dalam, sementara perubahan iklim menghadirkan bencana yang tak bisa disangkal.

Dunia damai yang dulu diimpikan Bung Karno kini tampak kehilangan keseimbangannya.

Namun justru di tengah kekacauan inilah, Spirit Bandung menemukan relevansinya kembali. Prinsip perdamaian, keadilan, dan solidaritas yang dulu menjadi seruan moral bangsa-bangsa baru kini menjadi kebutuhan mendesak bagi peradaban global. Dunia memang bergerak menuju multipolarisme, tetapi tanpa arah etik yang jelas.

Negara-negara adidaya berebut pengaruh di Laut Cina Selatan, di Afrika, di Pasifik, bahkan di ruang digital—sementara negara-negara kecil kembali menjadi ajang perebutan kepentingan.

Indonesia, dengan warisan moral Bandung, seharusnya tidak berdiri di pinggir sejarah. Dalam politik luar negeri yang bebas aktif, Indonesia memiliki posisi unik: mampu berbicara dengan semua pihak tanpa kehilangan jati diri.

Indonesia adalah jembatan antara Utara dan Selatan, Timur dan Barat. Tetapi jembatan itu hanya bermakna bila ia benar-benar menghubungkan dua tepi yang terpisah—bukan sekadar berdiri di tengah arus yang saling menelan.

Spirit Bandung menuntut keberanian untuk berpihak pada kemanusiaan. Indonesia tidak perlu menjadi pengikut kekuatan mana pun, tetapi menjadi suara nurani global—terutama ketika keadilan diinjak, seperti di Palestina yang hingga kini belum merdeka.

Diplomasi Indonesia harus kembali bersumber pada etika Soekarno:

“Let us build a world where all men can live in peace and brotherhood.”

Bandung 1955 tidak dimaksudkan untuk menggulingkan satu kekuatan dan menggantinya dengan yang lain, melainkan untuk menegakkan dunia yang seimbang—dunia yang dituntun oleh martabat manusia, bukan oleh logika kekuasaan.

Kini, ketika ekonomi dunia dikuasai korporasi raksasa dan kebijakan global ditentukan oleh algoritma, semangat itu menuntut tafsir baru: dekolonisasi abad ke-21 berarti membebaskan diri dari ketimpangan digital, utang global, dan eksploitasi sumber daya alam yang tak berkesudahan.


Membangun Dunia Kembali

Peringatan 70 tahun KAA pada tahun 2025 ini diselenggarakan tidak hanya di Bandung, tetapi juga di Surabaya, Blitar, dan Yogyakarta—sebuah perjalanan simbolik dari diplomasi ke refleksi, dari politik ke kebudayaan.

Setelah seminar di IPDN dan Universitas Airlangga, para peserta dari 32 negara akan berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Di bawah rindang pepohonan dan di hadapan batu bertulis “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, dunia akan mengenang pemimpin yang berani bermimpi di tengah reruntuhan kolonialisme.

Ziarah itu bukan sekadar penghormatan, tetapi pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang apa yang telah terjadi, melainkan tentang apa yang masih harus diperjuangkan.

Bung Karno pernah berkata,

“Kita berusaha membangun dunia yang waras dan aman.”

Kini, “waras” dan “aman” terdengar asing di tengah perang, polarisasi, dan keruntuhan moral global. Namun di situlah Spirit Bandung menemukan panggilannya.

Di era digital, ketika disinformasi menggantikan kebenaran dan ketimpangan digital memperdalam jurang ketidakadilan, semangat Bandung perlu dibaca ulang. Solidaritas kini bukan hanya kerja sama antarnegara, tetapi juga perjuangan untuk keadilan akses terhadap teknologi dan pengetahuan. Perdamaian bukan hanya ketiadaan perang, tetapi keberanian untuk berdialog dalam perbedaan. Dan emansipasi berarti melepaskan diri dari ketergantungan pada sistem global yang menindas.

Festival keberagaman budaya di Yogyakarta yang menutup rangkaian KAA menjadi simbol kuat. Di sana, semangat politik Bandung berpadu dengan denyut kebudayaan: tari, musik, dan puisi dari berbagai bangsa Asia dan Afrika bersatu dalam satu panggung.

Pesannya jelas: perdamaian dunia tidak hanya lahir dari meja perundingan, tetapi dari pengakuan atas keindahan dan keberagaman manusia.

Bandung 1955 adalah awal dari mimpi global yang belum selesai. Dunia mungkin telah berubah, tetapi ketidakadilan masih serupa: kekayaan menumpuk di segelintir tangan, kekuasaan global masih berpihak pada yang kuat, dan kemerdekaan masih menjadi kemewahan bagi banyak bangsa.

Peringatan 70 tahun KAA bukan nostalgia, tetapi undangan moral bagi umat manusia untuk membangun dunia kembalito build the world anew.

Bung Karno telah menanam benih itu tujuh dekade lalu. Kini tugas kita adalah menumbuhkannya di tengah gurun ketimpangan global.

Seperti katanya pada 1955:

“Bandung bukan hanya sebuah kota, tetapi sebuah semangat; bukan hanya peristiwa, tetapi janji.”

Janji bahwa kemerdekaan sejati hanya bermakna bila dibaktikan bagi keadilan—dan keadilan sejati hanya berarti bila ditegakkan untuk seluruh umat manusia.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Menarik Benang Kusut, Penertiban BBM Bersubsidi

(Ambin Demokrasi) Oleh: Noorhalis Majid Penertiban atas aksi “preman” di beberapa SPBU...

Belasungkawa Mega: Antara Politik Hati dan Diplomasi Dunia

Oleh: Dahlan Iskan Naskah Dahlan Iskan yang berjudul “Bela Khamenei” menghadirkan refleksi...

POTRET PENDIDIKAN: RUANG KELAS YANG RAPUH, HARAPAN JANGAN RUNTUH

Oleh: H. M. Syaripuddin, S.E., M.AP Pendidikan sejak lama diyakini sebagai fondasi...

Suara Publik Meningkat: Meratus Harus Dilindungi, Bukan Dipinggirkan

RETORIKABANUA.ID, Banjarmasin – Isu penetapan Pegunungan Meratus sebagai Taman Nasional kembali mencuat...