Oleh: Noorhalis Majid
Apa masih belum sadar, hoax jadi industri? Lihat saja, siapa yang mau bersusah payah membuat, bahkan mengemas berita bohong setiap hari, kalau bukan karena ada kepentingan ekonomi?
Apalagi di tahun politik. Industri hoax semakin marak. Kalau mau jeli, tiap waktu, selalu ada informasi atau konten yang beredar di media sosial. Isinya kebohongan dan fitnah.
Kebohongan sudah seperti kadar emas. Memiliki prosentase atau kandungan. Agar dipercaya, mesti diracik dengan fakta atau kebenaran.
Mungkin beritanya benar, gambarnya palsu. Sebaliknya, gambar benar, narasi dan beritanya dusta. Lebih canggih lagi, dicampur sedemikian rupa antara fakta, kebenaran dan kebohongan. Sehingga tidak dikenali berita sebenarnya.
Ketika sudah diracik begitu, disampaikan berulang-ulang dan diviralkan. Sampai berpotensi dianggap sebagai kebenaran. Dan, untung besarlah industri itu.
Kementerian Kominfo mengungkap, ada sekitar 800.000 situs di Indonesia terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Internet dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka menyebarkan konten negatif, menimbulkan keresahan dan saling curigai di tengah masyarakat.
Hoax merupakan informasi sesat dan berbahaya. Dapat menyesatkan persepsi masyarakat, karena informasi yang disampaikan palsu, jauh dari kebenaran.
Hoax yang dikemas dengan apik, mampu memengaruhi persepsi dan pikiran. Bahkan memecah belah dan mengadu domba.
Lynda Walsh dalam buku Sins Against Science, mengulas istilah hoax atau kabar bohong merupakan diksi bahasa Inggris yang masuk sejak era industri. Diperkirakan pertama kali muncul pada 1808.
Namun, Alexander Boese dalam bukunya Museum of Hoaxes, mencatat pertama yang dipublikasikan adalah almanak atau penanggalan palsu. Dibuat Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709.
Walau tidak mampu memverifikasi, sederhana cara menyaringnya. Kalau isinya mengadu domba, apalagi soal politik, “jangan lakas ditaguk”. (nm)



Leave a comment