Oleh: Noorhalis Majid
Membanggakan bila para politisi muda mampu untuk tidak terbawa langgam para senior. Bila umumnya mengandalkan logistik dalam memikat hati pemilih, politisi muda cukup hanya KPB. Yaitu kesempatan, panggung dan bicara.
Tidak perlu pakai dana. Selain memang tidak punya, juga ingin melawan pola yang tidak mencerdaskan tersebut.
Demikianlah yang terungkap saat Forum Ambin Demokrasi digelar belum lama tadi. Acara ini dihadiri para politisi muda dari berbagai partai politik.
Kalau anak muda idealis juga mengandalkan kemampuan logistik, dan membagikan layaknya sinterklas pemodal besar, berarti tidak ada bedanya dengan para seniornya. Mungkin hanya casingnya saja yang muda, mental dan semangat sudah tua – uzur.
Terkecuali, politisi muda memang tunas dari dinasti politik yang mapan, yang berusaha melanggengkan kekuasaan politik hingga tujuh turunan. Yang terakhir ini tidak perlu dihitung, cukup disesali.
Karena kalau dipaksakan, tanpa dibekali pendidikan politik yang cukup, dan tidak punya kemampuan, hanya akan memundurkan demokrasi. Artinya menghambat kemajuan bangsa.
Tapi, kalau politisi muda pejuang yang idealis, maka pertahankan idealisme tersebut sampai sekuat-kuatnya. Jangan mudah menyerah.
Dalam forum itu, para politisi muda juga menggugat dengan lantang, “politisi senior harus rela memberikan kesempatan dan panggung, sehingga anak muda dapat mengembangkan dirinya, menjadi bagian dari estapet politik, agar mampu menyegarkan dan membawa semangat perubahan”.
Kalau dihambat, dilemahkan, lalu ditakut-takuti dengan berbagai konsekuensi yang tidak murah, bahkan berbiaya mahal, jangan berharap anak muda leluasa mengembangkan dirinya.
Padahal, sekarang ini sedang memasuki bonus demografi . Anak muda jumlahnya lebih banyak, mencapai 60% saat Pemilu 2024. Bila mereka tidak tampil, berarti tidak ada kebaruan yang bisa diandalkan dalam menjawab tantangan zaman. (nm)



Leave a comment