Rabu, 24 Juli 2024
BerandaKALSELBANJARMASINMahasiswa Itu Care dan Bermoral

Mahasiswa Itu Care dan Bermoral

BANJARMASIN – Agenda Legislative Goes to Campus kembali digelar, Kamis (10/12) di Gedung Dakwag NU Kalsel. Acara kali ini mengangkat tema “Model Mental Mahasiswa”.

Diikuti 30 peserta, kegiatan yang dimulai pada pukul 09.00 Wita ini menyasar pokok diskusi, bagaimana seorang mahasiswa sebagai intelektual muda menjalankan peran dalam berkebangsaan.

Dua narasumber dihadirkan. Dosen Kewarganegaraan Universitas Lambung Mangkurat Reja Fahlevi dan Ketua Lakpesdam PWNU Kalsel Muhammad Hafizh Ridha.

Hafizh Ridha punya pemikiran sederhana. Intelektualitas dan mental manusia dapat diuji dari pemahamannya dalam melihat atau menghadapi suatu situasi. Yang kemudian direspons.

Jika mahasiswa disebut sebagai garda terdepan dalam menyampaikan aspirasi, sebelum mereka harus membuka mata. Sehingga tak keliru, apalagi sekadar action.

“Mahasiswa intelektual harus memahami secara utuh mana yang harus diperjuangkan dan tidak,” katanya.

Sebagai mahasiswa, lanjut dia, tentu harus punya pemahaman yang luas. Agar apa yang dilakukan tak berdasarkan ego. Tapi dipicu dari rasa empati.

Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah memahami orang lain. Tidak ngotot atas asumsinya sendiri. Rangkul orang lain dan jangan merasa paling benar.

Menurut Hafizh, manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Bukan untuk saling merasa benar, apalagi mencaci maki. Tapi untuk saling mengenal satu sama lain.

Itulah yang harus ditanamkan dalam diri mahasiswa sebagai agen perubahan. “Apabila sudah saling mengenal dan saling memahami satu sama lainnya, insyaallah negara kita menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” katanya.

Sementara Reja Fahlevi menguraikan, mahasiswa saat ini sudah mulai apatis. Masa bodoh dengan apa yang terjadi. Kalaupun ada yang menyampaikan aspirasi, hanya mengikuti komando. Alias ikut-ikutan agar terlihat eksis. Tanpa memahami subtansi dari aspirasi mereka.

“Sebelum melakukan aksi, Anda harus tahu subtansi aspirasi yang ingin disampaikan. Apakah aspirasi itu berdampak nyata untuk daerah kita sendiri, atau tidak,” tegasnya.

Mahasiswa juga harus peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar. Untuk kemudian disaring, lalu direspons dengan cara yang tepat.

Problem lain, mahasiswa saat ini hanya fokus sebagai agen perubahan. Tetapi lupa dengan fungsi lain. Yaitu sebagai penyangga terdepan dalam bermoral yang baik.

“Moral pemuda adalah cerminan dari moral suatu bangsa. Jika baik, tentu akan menjadi bangsa yang baik,” tegasnya.

Di kesempatan itu, Wakil Ketua DPRD Kalsel Muhammad Syaripuddin melalui tayangan video menyebut mahasiswa adalah identitas utama kaum intelek. Tapi jangan kebablasan. Terlalu sibuk berorasi, tapi melupakan diri sendiri.

“Memang tidak mudah menjadi mahasiswa. Ketika harus menyeimbangkan antara pendidikan dan berorganisasi. Namun di sinilah mental diuji, untuk menjadi agen perubahan yang hebat di kelas dan bermartabat di luar kampus,” kata inisiator Legislative Goes to Campus itu.

Ia berpesan kepada para mahasiswa agar aktif menyuarakan aspirasi boleh-boleh saja. Tapi juga harus dibarengi sebagai sosok yang teladan di kampus.

“Kami berharap mahasiswa memiliki mental sejatinya mahasiswa. Menjadi sosok yang punya gairah di kampus dengan belajar sungguh-sungguh, dan menjadi sosok yang kritis di luar kampus dengan aktif berorganisasi,” pungkasnya.

Intinya, mahasiswa harus care dan bermoral. Peduli terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menjadi sosok yang mencerminkan kebaikan sebuah bangsa. (*)

BERITA TERKAIT

BERITA TERKINI