RETORIKABANUA.ID, Tapin – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Tapin kembali diwarnai tradisi Baayun Maulid, warisan budaya masyarakat Banjar yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Tradisi tersebut digelar di Masjid Keramat Al-Mukarromah Banua Halat, Rantau, Kabupaten Tapin, Selasa (25/8), bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, M. Syarifuddin turut mengikuti prosesi Baayun Maulid bersama ribuan peserta.
Diiringi lantunan doa dan selawat, prosesi berlangsung khidmat dan diikuti masyarakat dari berbagai daerah serta berbagai kelompok usia.
Tahun ini, Baayun Maulid mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah untuk Membentuk Generasi Cinta Rasulullah SAW, Kuat Iman dan Islam serta Berkarakter.”
Dalam sambutan tertulis Gubernur H. Muhidin yang dibacakan Syarifuddin, Baayun Maulid disebut sebagai salah satu tradisi Maulid tertua di Banua.
Tradisi ini memadukan budaya masyarakat Banjar dengan nilai-nilai Islam dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Salah satu tradisi Maulid yang paling tua di Banua adalah Baayun Maulid,” ujar H. Muhidin dalam sambutan tertulisnya.
Menurutnya, berbagai perlengkapan yang menghiasi ayunan juga memiliki makna tersendiri. Di antaranya kain sasirangan, janur, kelapa, pisang, ketupat, hingga kue tradisional khas Banjar.
Namun, H. Muhidin menilai makna utama Baayun Maulid bukan terletak pada kemeriahan hiasan ayunan, melainkan pada doa yang dipanjatkan.
“Yang paling berharga dari semua ayunan bukanlah hiasannya, melainkan ada pada doa-doanya,” tuturnya.
H. Muhidin juga mengingatkan bahwa Baayun Maulid tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya. Tradisi tersebut dapat menjadi pengingat pentingnya pendidikan akhlak sejak usia dini.
“Pendidikan akhlak itu dimulai dari ayunan dan dari rumah. Keluarga adalah madrasah pertama dan orang tua adalah guru pertama,” katanya.
Karena itu, momentum Maulid diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus membentuk karakter anak sejak dini.
H. Muhidin berharap peringatan Maulid Nabi dapat semakin memperkuat kecintaan masyarakat kepada Rasulullah SAW.
“Mudah-mudahan momentum ini semakin mempertebal kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan Allah senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya kepada kita semua,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ketua MUI Kalsel TGH KH Ahmad Syairazi mengisahkan kondisi Kota Makkah sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, masyarakat saat itu menghadapi berbagai persoalan, termasuk kekeringan dan tingginya harga kebutuhan.
“Setelah beliau lahir, hujan turun dan keadaan berangsur membaik,” ujarnya.
Kisah tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa kelahiran Rasulullah SAW membawa harapan dan keberkahan bagi umat.
Karena itu, Ahmad mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum memperbanyak doa dan memohon pertolongan Allah SWT.
“Maulid Nabi ini kita jadikan momentum untuk memohon keberkahan bagi Banua,” katanya.
Di tengah kondisi cuaca yang masih menjadi perhatian, ia berharap doa yang dipanjatkan bersama menjadi jalan turunnya hujan dan membawa keberkahan bagi Kalimantan Selatan.
“Kita berharap keberkahan Maulid ini, semoga hujan segera turun dan Banua senantiasa diberi keberkahan,” harapnya.
Baayun Maulid kembali menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai keagamaan dapat berjalan bersama. Selain menjaga warisan budaya Banjar, tradisi ini juga menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dan menanamkan nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. (ap)
