BANJARMASIN – Dengan keingingan mempunyai usaha sendiri, Hayati bersama suaminya, Barani, membuka usaha tahun 2010 lalu. Awalnya, mereka merintis usaha kuliner dengan rombong dorong, namun kini sudah punya warung menetap. Usaha yang awalnya hanya mi ayam tunggal, sekarang sudah bervariasi. Namanya Warung Kurniawan.
Saat pandemi Covid-19 sekarang, banyak pedagang memutar otak untuk bertahan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sejak pemberlakuan PPKM Level 4 di Banjarmasin, menjadi masalah bagi Hayati dan warungnya itu.
Di sela-sela kesibukannya, Hayati mengatakan, dampak PPKM, dagangannya cukup terdampak. “Biasanya 5 Kg mi bisa habis sehari. Sekarang hanya 2 Kg saja. Itu pun masih ada sisamie juga masih ada sisa,” ucapnya, Selasa (27/7).
Untuk pemasukan dalam sebulan sebelum pandemi, tutur Hayati, bisa mencapai Rp 2 sampai Rp 5 juta perbulan. “Untuk biaya hidup cukup, tapi untuk bayar sewa sama modal juga belum terpenuhi,” ungkapnya.
Harga yang ditawarkan Warung Kurniawan juga relatif murah, dengan kisaran Rp 10 sampai Rp 20 ribu per porsi.” Untuk harga sangat bersahabat bagi kami mahasiswa,” ujar salah satu pelanggan setia warung ini.
Warung yang beralamat di jalan Pangeran Hidayatulah, Banua Anyar, Banjarmasin ini menawarkan menu yang cukup banyak. Ada nasi pecel, bakso, ayam serundeng, dan lalapan. (uta)



Leave a comment