AMUNTAI – Namanya Noraida, seorang barista salah satu kedai kopi H2R Coffee di Alabio, Hulu Sungai Utara (HSU). Tak hanya mengandalkan parasnya yang cantik, ia juga menunjukkan kepiawaiannya dalam meracik kopi.
Perempuan keturunan asli Banjar ini penyuka kopi dan menyintai pekerjaannya sebagai barista. Kadang dia menuangkan kesukaan profesinya ke media sosial.
Dara berzodiak Aries ini menceritakan perjalanannya sampai bisa menjadi barista. Sejak lulus 1 tahun Sekolah Madrasah Aliyah, Aida mengaku menawarkan diri untuk belajar meracik kopi di H2R Coffee.
“Saat 1 tahun lulus sekolah, saya sendiri yang ingin ke sini (H2R Coffee), dimentori oleh ownernya langsung, Hadi dan Ridha, menjadi Barista. Kemudian juga disupport orang tua,” ujar dara 19 tahun ini.
Menjadi barista membuat Aida samakin banyak belajar tentang membuat kopi. Setiap hari Aida mengambil ilmu tentang perkopian dari para senior di tempat kerjanya. Selain itu, Aida juga memanfaatkan internet sebagai media belajarnya.
Menurut Aida, saat ini, profesi barista belum banyak digandrungi perempuan. “Benar, jarang ya ada barista wanita,” ujarnya.
Sekilas melihat seorang barista membuat kopi sangat mudah. Seperti hanya menuangkan air panas ke bubuk kopi, dan jadilah secangkir kopi nikmat.
Kata Aida, sayangnya tidak hanya itu saja. Di samping membuat secangkir kopi yang nikmat, barista harus menguasai banyak hal tentang kopi. Karena menjadi seorang barista adalah penyampai rasa yang nikmat dari biji kopi tersebut.
“Menjadi barista bukan sekadar bisa membikin kopi saja. Kadang di balik itu banyak yang harus diketahui,” kata Aida.
Aida menikmati pekerjaannya sebagai barista perempuan. Bekerja sebagai barista juga mengajarkannya menjadi seseorang yang mandiri. “Menjadi barista, mengajari saya mandiri, punya penghasilan sendiri,” pungkasnya. (mid)



Leave a comment