RANTAU – Kabupaten Tapin terkenal “Bertabur Ulama (datu-datu)” karena
banyaknya ulama yang lahir, bermukim, dan mengajarkan agama Islam di kabupaten ini. Sehingga
kehidupan masyarakatnya sangat agamis.
Datu adalah gelar yang disematkan bagi alim ulama atau orang yang tinggi ilmu agamanya, yang sudah meninggal tetapi dikeramatkan. Sama pengertiannya dengan sunan dalam masyarakat Jawa.

Para datu dan sunan ini adalah simbol penyebaran agama Islam dan kekuatan sebuah peradaban Islam pada masanya di tempatnya tinggal bersama rakyatnya.
Jika makam dan peninggalan datu-datu di banua ini benar dikelola dengan baik dan profesional, dan selanjutnya tetap terpelihara, maka betapa dahsyatnya pesona wisata religi melalui ziarah ini.
Para penziarah dari seluruh Indonesia yang dikelola para agen wisata akan berkunjung.tanpa henti. Tentunya ini potensi wisata luar biasa yang bukan hanya mampu menjadikan Tapin dikenal sebagai tanah datu-datu, tetapi juga dapat meningkatkan derajat ekonomi masyarakat setempat.
Anggota DPRD Tapin HM Rian Jaya mendorong agar pemerintah kabupaten untuk serius dalam pengembangan wisata religi di daerah ini.
“Meski masih dalam kondisi pandemi,. justru jadikan ini kesempatan pemda untuk membenahi kawasan wisata religi yang ada di Tapin. Sehingga saat pandemi berakhir dapat langsung bisa dimanfaatkan,” katanya.
Lebih lanjut Wakil Ketua Komisi III DPRD Tapin ini menjelaskan, terutama infrastruktur jalan, bagaimana agar setiap tempat wisata religi didukung kondisi jalan yang prima dan dapat dilalui bus, serta antar lokasi terkoneksi dengan baik.
“Jadi dalam 1 hari para peziarah dapat menyinggahi beberapa lokasi wisata religi. Seperti dari beberapa makam di daerah Tatakan terkoneksi dengan baik, kemudian jalurnya bisa lanjut ke Desa Gadung, dan ke daerah Margasari (Datu Kabul). Antar lokasi dapat terkoneksi dengan baik, serta masyarakat setempat dapat menyediakan cindera mata oleh-oleh sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (thr)

Leave a comment