RETORIKABANUA.ID, Banjarmasin – Kegiatan Training Referee ORADO Kalimantan Selatan resmi ditutup setelah berlangsung selama dua hari, 4–5 Februari 2026, di Aula Lantai 4 Gedung Batas Kota, Banjarmasin.
Pelatihan ini menjadi bagian dari program nasional PB ORADO untuk membangun sistem perwasitan olahraga domino yang profesional, berlisensi dan berstandar nasional. Antusiasme peserta terlihat tinggi sejak hari pertama hingga penutupan kegiatan.

Kabid Teknik dan Wasit PB ORADO, Isra Prasetya Idris, mengaku sangat puas dengan kualitas peserta pelatihan di Kalimantan Selatan. Menurutnya, para peserta datang dari latar belakang olahraga yang beragam, tidak hanya dari domino.
“Selama dua hari ini saya benar-benar excited. Pesertanya bukan hanya dari domino, tetapi juga dari bridge, tinju, bulu tangkis level nasional, hingga bela diri. Ini menunjukkan ORADO dipandang sebagai organisasi yang profesional dan serius membangun sistem wasit nasional,” ujar Isra.
Ia menilai keberagaman latar belakang tersebut menjadi bukti bahwa sistem pelatihan dan lisensi wasit yang disusun PB ORADO sudah memenuhi standar profesional dan siap diterapkan secara luas.
“Kami optimistis lisensi referee yang dikeluarkan nanti sudah sesuai standar. Wasit yang berkualitas akan melahirkan kompetisi yang baik, dan kompetisi yang baik akan mencetak atlet berkualitas. Ekosistem ini harus dibangun dari hulu,” jelasnya.
Isra juga melihat potensi besar dari Kalimantan Selatan dalam pengembangan olahraga domino. Ia mendorong Pengprov ORADO Kalsel segera menggelar kejuaraan berjenjang setelah para wasit menyelesaikan pelatihan.
“Setelah Lebaran, kami harapkan sudah bisa mulai kejuaraan tingkat provinsi. Dari sana akan terbentuk sistem kompetisi dari bawah hingga ke tingkat nasional,” tegasnya.

Sementara itu, Pembina ORADO Kalimantan Selatan, Mustohir Arifin, menyampaikan kebanggaannya atas perkembangan ORADO di Banua yang dinilainya sangat pesat.
“Saya sangat antusias melihat ORADO berkembang di Kalimantan Selatan. Ini berkat semangat dan kerja keras pengurus provinsi. Meski tergolong baru, pertumbuhan ORADO sangat cepat,” katanya.
Ia berharap ORADO ke depan dapat menjadi cabang olahraga resmi dengan sistem pembinaan atlet yang jelas dan berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga nasional.
“Jalur pembinaannya harus jelas. Dari kejuaraan daerah, kejuaraan provinsi, sampai kejuaraan nasional,” ujarnya.
Dari sisi peserta, Rizky Fadillah, delegasi ORADO Hulu Sungai Tengah (HST), mengaku pelatihan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga, terutama karena di daerahnya belum memiliki wasit domino.
“Alhamdulillah, saya sangat senang mengikuti pelatihan ini. Di HST belum ada wasit domino. Setelah ini saya akan mensosialisasikan perwasitan dan permainan domino di daerah saya,” ungkapnya.
Rizky juga menilai materi pelatihan mudah dipahami meski ia berasal dari cabang olahraga lain.
“Di bulu tangkis ada kartu kuning, merah, dan hitam. Di domino tidak ada kartu, tapi poin langsung diberikan ke lawan. Aturannya berbeda dan justru membuat pertandingan lebih strategis,” tambahnya.
Dengan berakhirnya pelatihan ini, ORADO Kalimantan Selatan kini memiliki calon wasit berlisensi yang siap mendukung pelaksanaan kompetisi berjenjang. Pelatihan ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem olahraga domino di Banua, mulai dari perwasitan, kompetisi, hingga pembinaan atlet menuju level nasional. (ms)
