KALSEL

PDI Perjuangan Kalsel Hidupkan Tradisi Mendengar Kritik Publik

138

RETORIKABANUA.ID, Banjarmasin – Mendengar bukanlah hal mudah. Dibutuhkan kemauan, kerendahan hati dan keterampilan untuk benar-benar memahami apa yang disampaikan orang lain. Apalagi bila “telinga sudah tebal”, alias sulit menerima kritik. Hal itu diungkapkan Dr. Ratna Sari Dewi, wartawan senior, dalam Focus Group Discussion (FGD) “PDI Perjuangan Mendengar Rakyat” yang digelar pada Kamis, (13/11), di Tree Park Hotel Banjarmasin.

Diskusi tersebut menghadirkan puluhan tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh agama, budaya, media, aktivis lingkungan, pegiat perempuan, hingga asosiasi pengusaha.

“Kegiatan ini memang kami tujukan untuk membangun tradisi mendengar para pihak yang kritis. Dengan begitu, partai politik dapat memperbaiki diri, berkaca, dan menjadikan kritik sebagai bahan penyusunan program,” ujar Ketua DPD PDI Perjuangan Kalimantan Selatan, M. Syarifuddin.

Pemimpin Redaksi Kalimantan Post, Sunarti, menyambut baik forum terbuka ini. Ia menilai kegiatan semacam ini sangat penting untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap partai politik.

“Baru kali ini ada forum yang secara khusus mendengarkan kritik. Kami berharap ini bisa menjadi tradisi. Kritik-kritik ini harus diperjuangkan di lembaga legislatif, atau diolah menjadi regulasi, kebijakan, maupun program partai. Selama ini, kepercayaan publik terhadap partai politik sangat rendah karena perilaku pengurus dan kader yang tidak simpatik, tidak konsisten dan takut bersuara. Padahal PDI Perjuangan membawa suara wong cilik, suara masyarakat,” tegasnya.

Akademisi sekaligus pakar kehutanan, Dr. Mahrus, juga menyoroti perilaku sebagian anggota legislatif yang dinilai menjauh setelah terpilih.

“Banyak yang seharusnya dekat dengan warga, tetapi setelah duduk di kursi legislatif justru ‘baliung’, menjadi Mr. Liung—menghindar ketika didatangi masyarakat. Kami berharap PDI Perjuangan bisa menjadi pelopor forum mendengar kritik seperti ini sebagai langkah serius memperbaiki kinerja partai politik,” ujarnya.

Dalam forum tersebut muncul berbagai isu strategis yang dianggap penting dan mendesak, antara lain rendahnya indeks toleransi, persoalan banjir dan lingkungan yang kian kritis, tata kelola pemerintahan terkait simpanan dana APBD sebesar Rp5,1 triliun, serta perlunya perlindungan bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan penyandang disabilitas. Tidak ketinggalan, isu kepemiluan dan demokrasi yang dianggap kian terfragmentasi akibat rendahnya integritas penyelenggara, aparat dan partai politik.

Akademisi FISIP ULM, Dr. Varinia Pura Damaiyanti, menegaskan bahwa partai politik harus hadir sebagai solusi, bukan sumber masalah.

“Kami berharap PDI Perjuangan mampu merancang program yang benar-benar menjawab kebutuhan warga. Jika terkait kepentingan publik mulai dari banjir, ekonomi, hingga kebijakan pemerintahan yang tidak transparan maka partai harus berani bersuara,” tegasnya. (nm)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Ekonomi Tumbuh, PDI Perjuangan Dorong Kalsel Kurangi Ketergantungan pada Batu Bara

BANJARMASIN – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Kalimantan Selatan mendorong pemerintah...

Pansus DPRD Kalsel Kaji Distribusi BBM Bersubsidi

RETORIKABANUA.ID, Banjarmasin – DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus mengupayakan perbaikan distribusi...

Hari Jadi ke-500 Banjarmasin, Bang Dhin Dorong Pembenahan Kota Sungai

BANJARMASIN – Ketua DPD PDI Perjuangan Kalimantan Selatan sekaligus anggota DPRD Kalsel,...

Di Tengah Hari Jadi ke-500, Bang Dhin Soroti Gangguan Air Bersih di Banjarmasin

BANJARMASIN – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan...