RETORIKABANUA.ID, Banjarmasin – Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR didampingi Ketua TP PKK Kota Banjarmasin, Neli Listriani meninjau langsung sekaligus menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir di Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, Sabtu (3/1).
Kunjungan tersebut menjadi bentuk kepedulian dan kehadiran pemerintah daerah di tengah masyarakat yang sedang menghadapi bencana banjir. Turut mendampingi dalam kegiatan ini Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Banjarmasin Husni Tamrin, Plt Camat Banjarmasin Timur, serta jajaran terkait lainnya.
Peninjauan difokuskan di RT 08 RW 01 Sungai Lulut Dalam yang kondisinya hampir seluruhnya terendam air. Ketinggian genangan mencapai hampir setengah lutut orang dewasa, akibat kombinasi air pasang sungai dan curah hujan yang masih tinggi.
Wali Kota Yamin menjelaskan, wilayah Kelurahan Sungai Lulut memiliki sedikitnya lima aliran sungai yang saling terhubung. Sungai Lulut sendiri berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Banjar, sehingga penanganan banjir tidak dapat dilakukan secara sepihak.
“Kita berharap ke depan ada kolaborasi antara Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Kabupaten Banjar, khususnya dalam normalisasi dan perbaikan aliran sungai,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya normalisasi dan revitalisasi sungai sebaiknya dilakukan saat musim kemarau, bukan pada musim hujan atau ketika air pasang, agar hasil pekerjaan bisa lebih maksimal.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi yang dialami warga. Pemerintah Kota Banjarmasin akan terus berkoordinasi. Tadi kami juga sudah berkomunikasi langsung dengan Kepala Balai Wilayah Sungai agar bisa melihat kondisi warga di RT 08 Sungai Lulut secara langsung,” lanjutnya.
Selain normalisasi sungai, Yamin juga menilai pentingnya pembangunan drainase multifungsi. Saluran tersebut tidak hanya berfungsi mengalirkan air, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai akses jalan warga, baik untuk pejalan kaki maupun kendaraan roda dua, dengan konsep saluran tertutup.
Ia juga mengimbau kesadaran masyarakat, terutama warga yang bermukim di bantaran sungai, agar tidak memperluas bangunan hingga melewati batas sempadan sungai.
“Kalau bangunan terus menjorok ke sungai, mungkin rumah terasa lebih luas, tapi dampaknya justru mengganggu aliran air dan merugikan masyarakat secara luas. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat,” tegasnya.
Sebagai langkah tanggap darurat, sebuah musala yang posisinya lebih tinggi sementara dijadikan lokasi evakuasi warga. Tempat tersebut terhubung langsung dengan lingkungan RT setempat dan digunakan selama air masih pasang.
“Saya bersama jajaran berkomitmen untuk mulai melakukan pengerukan dan normalisasi sungai pada musim kemarau mendatang, agar kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkas Yamin.
Pada kesempatan yang sama, Kalak BPBD Kota Banjarmasin Husni Tamrin menyebutkan bahwa Kelurahan Sungai Lulut merupakan wilayah perbatasan yang paling awal menerima dampak banjir kiriman dari kawasan Martapura.
“Kondisi ini menjadikan Sungai Lulut sebagai titik krusial. Limpasan air dari daerah hulu pasti mengalir ke kawasan ini dan bahkan berpotensi berdampak hingga Pemurus Baru dan Jalan Pramuka,” jelas Husni.
Menurutnya, persoalan banjir di Sungai Lulut tidak dapat ditangani oleh Pemerintah Kota Banjarmasin secara mandiri. Diperlukan kerja sama lintas daerah dan lintas sektor karena sungai merupakan wilayah bersama yang tidak mengenal batas administrasi.
“Hal penting adalah kerja sama dengan pemerintah daerah sekitar, seperti Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Tanah Laut dan Barito Kuala melalui forum kerja sama Banjar Bakula,” tambahnya.
Husni juga menyampaikan bahwa Wali Kota Banjarmasin telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah III untuk memfokuskan perhatian pada sungai-sungai yang setiap tahun menjadi langganan banjir, khususnya Sungai Lulut.
“Penanganan ke depan diarahkan pada perencanaan yang lebih matang, dengan pelaksanaan normalisasi sungai dan pembenahan drainase dilakukan saat musim kemarau agar kesiapsiagaan saat musim hujan lebih optimal,” tuturnya.
Terkait kondisi di lapangan, BPBD Kota Banjarmasin telah melakukan evakuasi warga secara situasional, terutama pada malam hari saat ketinggian air meningkat dan berpotensi membahayakan. Sebanyak 15 kepala keluarga dengan total 39 jiwa dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
Selain itu, bantuan logistik telah disalurkan kepada warga terdampak dan direncanakan pendirian dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa genangan.
Dukungan juga datang dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III berupa bantuan satu unit perahu yang diserahkan kepada Forum Kelurahan Tangguh Bencana (FKTB) Sungai Lulut. Perahu tersebut digunakan sebagai sarana evakuasi dan mobilitas warga saat banjir, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta memperkuat peran FKTB dalam penanganan darurat banjir, sekaligus menjadi bagian dari sinergi lintas sektor dalam upaya pengurangan risiko bencana di Kota Banjarmasin. (ms)
